Minggu, 10 Juni 2018

ARTIKEL PENDIDIKAN


DSC00476Reposisi PPK, Literasi dan Kompetensi di Kurtilas
Oleh. Tukijo, S.Pd
Guru SMP 17 Semarang

 Impementasi kurikulum 2013 atau biasa kita sebut Kurtilas, banyak mengalami perasalahan di lapangan. Pada tataran impelementasi, kurtilas dianggap sebagai hal baru baik dari sisi standar isi, standar proses, standar penilaian, standar kelulusan, standar KI dan KD, serta piranti pendukung lainnya. Permasalahan lain muncul, berkait dengan buku ajar yang terus direvisi, system penilaian yang mencakup sikap (religi dan sosial), pengetahuan, dan keterampilan. Diklat-diklat yang belum menyeluruh bagi guru, menjadi pelengkap penerapan kurikulum yang dianggap baru ini. Belum lagi, pendampingan pelaksanaan pembelajaran di kelas yang masih minim. Penguasaan konsep dan pemahaman administrasi mengajar oleh guru juga turut menjadi kendala. Yang terbaru, praktik pembelajaran di kelas masih jauh dari ideal yang diharapkan dari kurtilas.

Permendikbud 22 tahun 2016 mengenai standar proses menjadi kebutuhan pokok guru untuk merencanakan, mengelola, dan melaksanakan sampai bentuk evaluasi. Jika dalam regulasi lama, silabus disediakan juga oleh pemerintah. Maka dalam perkembangannya guru harus lebih berinovasi dalam perencanaannya. Sehingga proses pembelajaran benar-benar terwujud.
Pada aspek penilaian sesuai permendikbud 25 tahun 2016, prinsip-prinsip penilaian dilakukan oleh guru dengan mengacu regulasi tersebut. Model penilaian merambah ranah kognitif, afektif dan keterampilan. Hanya dalam revisi kurtilas, ada ranah baru yang dibidik pemerintah yaitu metakognitif. Apa itu metakognitif?
Capaian yang hendak dituju dari metakognitif, siswa mengetahui kelebihan dan kekurangan dirinya sehingga mampu mengatasi masalah personal, social, dalam berbagai aspek kognitif, afektif dan psikomotorik, sehingga siswa bisa eksis. Pola metakognitif praktis saat ini menjadi bagian cukup penting. Selain itu, dalam hal baru kurtilas, prinsip yang akan dikembangkan 4C (critical thinking, creatifity, collaboration, and communication). Selain itu, juga guna mengimbangi dinamika peradaban, siswa tidak cukup dengan 4C, tetapi plus dengan problem solving.
Problem solving menjadi indicator siswa mampu mengatasi dan memecahkan masalah tanpa masalah pada dirinya. Ihwal probem solving menjadi paradigm berpikir dan berinisasi yang baru sehingga tepat diterapkan. Hal tersebut sesuai dengan dinamika zaman yang kian penuh tantangan. Setiap hari dinamika berubah, dan melahirkan kompleksitas permasalahan individu dan sosial.
Selain itu, warna baru dalam revisi kurtilas meliputi penguatan karakter, kompetensi, dan literasi. Lahirnya3 (tiga) unsur tersebut menjawab kebutuhan masyarakat saat ini. Orientasi nilai menjadi alasan kuat guna melahirkan generasi zaman now. Hal baru tersebut, diyakini belum mampu dipahami secara komprehensif oleh guru. Sehingga perlu upaya massif dari dinas pendidikan guna memasyarakatkan kepada guru di lingkup masing-masing.
Kompetensi dikuatkan untuk mengatasi tantangan yang makin kompleks. Melalui 4 C plus tersebut. Sedangkan penguatan karakter didasarkan pada situais lingkungan yang terus berubah. Maka diterapkanlah 5 karakter (religi, nasionalisme, mandiri, integritas, dan gotong-royong). Penggalia karakter dasar melalui nilai budaya lokal, diharapkan mampu mewarnai Penguatan pendidikan karakter (PPK) di sekolah.
Terakhir peningkatakan geraka literasi berkelanjutan, yang meliputi literasi media, literasi social budaya, literasi sains, baca dan tulis, berhitung, serta literasi keuangan. Ini pola yang hendak dijangkau pemerintah. Apalagi diyakini budaya literasi Indonesia sangat rendah. Dengan alasan tersebut, pemerintah bergerak lebih massif lagi.
Warna baru tersebu yang meliputi kompetensi, karakter, dan literasi diterapkan oleh guru dalam rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP). Kompetensi sudah disesuaikan dengan standar KI dan KD dalam sebaran kurikulum. Sedangkan karakter dilekatkan pada langkah-langkah pembelajaran pendahuluan, inti , maupun penutup. Bukan hanya itu, penguatan karakter pula dilakukan melalui kegiatan ekstrakurikuler maupun intrakurikuler.
Akhirnya guru mampu menilai dan mengobservasi progress sikap serta karakter siswa melalui indikator karakter yang hendak dicapai. Hasilnya pun harus dikonsultasikan dengan orangtua. Inilah yang sebenarnya menjadikan kurtilas makin jelas, bukan bablas. Nilai pendidikan yang meliputi berbagai ranah, ingin capai pemerintah. Kurtilaspun semakin dijelaskan dengan pendekatan pembelajaran Kontekstual yang memiliki tujuh komponen utama pembelajaran, yakni kontruktivisme (constructi- vism), bertanya (questioning), menyelidiki (inquiry), masyarakat belajar (learning community), pemodelan (modeling), refleksi (reflection), dan penilaian autentik (authentic assessment).



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

ARTIKEL

Hebat, Siswa SMP 17 Semarang Raih Juara 2 Lomba Tari Kreasi

 Siswi SMP 17 Semarang, berhasil meraih juara 2 lomba tari kreasi. Lomba diadakan oleh SMA Islam Sultan Agung 1 Semarang. Kegiatan diadakan ...