Oleh.
Tukijo, S.Pd
Guru
SMP 17 Semarang
Impementasi kurikulum 2013 atau biasa kita
sebut Kurtilas, banyak mengalami perasalahan
di lapangan. Pada tataran impelementasi, kurtilas dianggap sebagai hal baru
baik dari sisi standar isi, standar proses, standar penilaian, standar
kelulusan, standar KI dan KD, serta piranti pendukung lainnya. Permasalahan
lain muncul, berkait dengan buku ajar yang terus direvisi, system penilaian
yang mencakup sikap (religi dan sosial), pengetahuan, dan keterampilan.
Diklat-diklat yang belum menyeluruh bagi guru, menjadi pelengkap penerapan
kurikulum yang dianggap baru ini. Belum lagi, pendampingan pelaksanaan
pembelajaran di kelas yang masih minim. Penguasaan konsep dan pemahaman
administrasi mengajar oleh guru juga turut menjadi kendala. Yang terbaru,
praktik pembelajaran di kelas masih jauh dari ideal yang diharapkan dari kurtilas.
Permendikbud 22 tahun
2016 mengenai standar proses menjadi kebutuhan pokok guru untuk merencanakan,
mengelola, dan melaksanakan sampai bentuk evaluasi. Jika dalam regulasi lama,
silabus disediakan juga oleh pemerintah. Maka dalam perkembangannya guru harus
lebih berinovasi dalam perencanaannya. Sehingga proses pembelajaran benar-benar
terwujud.
Pada aspek penilaian
sesuai permendikbud 25 tahun 2016, prinsip-prinsip penilaian dilakukan oleh
guru dengan mengacu regulasi tersebut. Model penilaian merambah ranah kognitif,
afektif dan keterampilan. Hanya dalam revisi kurtilas, ada ranah baru yang dibidik
pemerintah yaitu metakognitif. Apa itu metakognitif?
Capaian yang hendak
dituju dari metakognitif, siswa mengetahui kelebihan dan kekurangan dirinya
sehingga mampu mengatasi masalah personal, social, dalam berbagai aspek
kognitif, afektif dan psikomotorik, sehingga siswa bisa eksis. Pola
metakognitif praktis saat ini menjadi bagian cukup penting. Selain itu, dalam
hal baru kurtilas, prinsip yang akan dikembangkan 4C (critical thinking,
creatifity, collaboration, and communication). Selain itu, juga guna mengimbangi
dinamika peradaban, siswa tidak cukup dengan 4C, tetapi plus dengan problem
solving.
Problem solving menjadi
indicator siswa mampu mengatasi dan memecahkan masalah tanpa masalah pada
dirinya. Ihwal probem solving menjadi paradigm berpikir dan berinisasi yang
baru sehingga tepat diterapkan. Hal tersebut sesuai dengan dinamika zaman yang
kian penuh tantangan. Setiap hari dinamika berubah, dan melahirkan kompleksitas
permasalahan individu dan sosial.
Selain itu, warna baru
dalam revisi kurtilas meliputi penguatan karakter, kompetensi, dan literasi.
Lahirnya3 (tiga) unsur tersebut menjawab kebutuhan masyarakat saat ini.
Orientasi nilai menjadi alasan kuat guna melahirkan generasi zaman now. Hal
baru tersebut, diyakini belum mampu dipahami secara komprehensif oleh guru.
Sehingga perlu upaya massif dari dinas pendidikan guna memasyarakatkan kepada
guru di lingkup masing-masing.
Kompetensi dikuatkan
untuk mengatasi tantangan yang makin kompleks. Melalui 4 C plus tersebut.
Sedangkan penguatan karakter didasarkan pada situais lingkungan yang terus
berubah. Maka diterapkanlah 5 karakter (religi, nasionalisme, mandiri,
integritas, dan gotong-royong). Penggalia karakter dasar melalui nilai budaya
lokal, diharapkan mampu mewarnai Penguatan pendidikan karakter (PPK) di
sekolah.
Terakhir peningkatakan
geraka literasi berkelanjutan, yang meliputi literasi media, literasi social
budaya, literasi sains, baca dan tulis, berhitung, serta literasi keuangan. Ini
pola yang hendak dijangkau pemerintah. Apalagi diyakini budaya literasi
Indonesia sangat rendah. Dengan alasan tersebut, pemerintah bergerak lebih
massif lagi.
Warna baru tersebu yang
meliputi kompetensi, karakter, dan literasi diterapkan oleh guru dalam rencana
pelaksanaan pembelajaran (RPP). Kompetensi sudah disesuaikan dengan standar KI
dan KD dalam sebaran kurikulum. Sedangkan karakter dilekatkan pada
langkah-langkah pembelajaran pendahuluan, inti , maupun penutup. Bukan hanya
itu, penguatan karakter pula dilakukan melalui kegiatan ekstrakurikuler maupun
intrakurikuler.
Akhirnya
guru mampu menilai dan mengobservasi progress sikap serta karakter siswa
melalui indikator karakter yang hendak dicapai. Hasilnya pun harus
dikonsultasikan dengan orangtua. Inilah yang sebenarnya menjadikan kurtilas
makin jelas, bukan bablas. Nilai pendidikan yang meliputi berbagai ranah, ingin
capai pemerintah. Kurtilaspun semakin dijelaskan dengan pendekatan pembelajaran
Kontekstual yang memiliki tujuh komponen utama pembelajaran, yakni
kontruktivisme (constructi- vism), bertanya (questioning),
menyelidiki (inquiry), masyarakat belajar (learning community),
pemodelan (modeling), refleksi (reflection), dan penilaian
autentik (authentic assessment).

Tidak ada komentar:
Posting Komentar