Minggu, 10 Juni 2018

ARTIKEL PENDIDIKAN

CBC,  Bangun Komunikasi Guru dan Siswa

 
Oleh, Tukijo, S.Pd
Guru SMP Negeri 17 Semarang

Bulying atau perundungan menjadi tren akhir-akhir ini. Bulying terjadi karena ada pihak dengan kekuasaan dan kekuatannya mengkooptasi pihak yang lemah. Selama ini kasus bullying lebih banyak dijumpai di sekolah. Mengapa di sekolah?Karena sekolah merupakan tempat bertemunya berbagai karakter siswa. Maraknya kasus bullying akhir-akhir ini, membuktikan bahwa ada sesuatu yang perlu dibenahi. Menasihati saja tidak cukup, untuk dipraktikkan terhadap siswa di sekolah. Celakanya, guru-guru di sekolah cenderung getol memberikan hukuman terhadap kekeliruan siswa. Ada istilah pewarisa hukuman dari generasi tua kepada siswa.

Bulying di sekolah menjadi perhatian khusus pemerintah dalam hal ini Kementerian Pemberdayaan, Perlindungan Perempuan dan Anak (KemenPPPA) Republik Indonesia. Maka program anti bullying menjadi amunisi baru untuk menihilkan banyaknya kasus bullying. Sehingga melalui strategi tertentu, pemerintah benar-benar memberikan perhatian terhadap maraknya bullying. Lagi-lagi korbannya yang sebagian besar para siswa, jarang mau terbuka terhadap guru.
Mengapa tidak mau terbuka dengan guru? Guru  menjadi orangtua kedua di sekolah. Guru yang mengatur, memfasilitasi, dan melindungi siswa selama pembelajaran. Jika masih ada siswa yang enggan terbuka dengan guru, berarti perlu cara lain. Guru perlu terbuka, membuka kran komunikasi yang harmonis, serta menurunkan tensi emosinya dengan siswa.
Salah satu cara agar siswa mau terbuka terhadap guru, yaitu conection before correction(CbC). Maksudnya, kita harus memiliki cara untuk melakukan pendekatan  lebih dulu kepada siswa. Guru harus mampu melakukan pendekatan dengan keterbukaan terhadap siswa. Tanpa sadar, guru pun bisa masuk ke dalam alam pikir siswa. Jelasnya guru perlu membangun jaringan atau hubungan (conection).
Hubungan yang harmonis, penuh keterbukaan terhadap siswa, akan membuat pintu komunikasi terbuka. Sekecil apapun, siswa pantas diapresiasi. Sekecil apapun kekeliruan siswa, perlu diberikan penegasan. Hanya saja, yang perlu diperhatikan guru, jangan sampai guru mewariskan dendam hukuman. Mulai saat ini, kita sepakat untuk tidak memberikan hukuman apapun kepada siswa. Baik hukuman fisik maupun hukuman psikis. Hukuman diubah menjadi konsekuensi logis yang disepakati bersama.
Hubungan yang dimaksud merupakan jembatan awal guru memahami karakter siswa. Karena ada siswa yang karakternya tertutup, tidak peduli, dan sebagainya. Untuk itu, guru perlu memperlakukan siswa sebagai orang yang mampu berpikir dengan nalarnya. Guru cukup memberikan ruang gerak yang cukup, serta membangun kesepakatan-kesepakatan.
Setelah conection  terbangun, maka tahap selanjutnya coorection (mengoreksi).Tidak mungkin seseorang yang belum kenal, lalu mampu memahami orang lain. Maka konsep conection before correction perlu diterapkan guru di kelas. Sehingga tercipta atmosfer kekeluargaan, tanpa hukuman, tanpa dendam, dan tanpa kekerasan.  Selama ini guru cenderung langsung correction, atau mengoreksi kesalahan siswa. Bahkan kadang ada oknum guru yang langsung bermain vonis.Bagaimana siswa akan terbuka kepada guru, jika gurunya sendiri tidak mau terbuka dengan perubahan zaman?
Maka dalam membangun conection atau hubungan batin tersebut, diperlukan ; guru menurunkan tensi kekuasannya atas siswa. Tidak perlu lagi guru marah-marah, dan menyalahkan siswa. Sekarang akses siswa menggali informasi cukup luas. Melalui penurunan tensi kekuasaan atas siswa tersebut, maka lambat laun siswa akan merasa risih sendiri.
Selanjutnya, perlakukan siswa sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Kuasa. Siswa menjadi bagian generasi yang kita siapkan kelak.  Selama ini masih saja ada guru yang merasa paling bisa . Guru paling menguasai materi, bahkan guru yang cenderung kurang terbuka dengan siswa. Padahal siswa lebih cepat akses informasi dari media online. Guru juga bisa menjadi teman, dan partner curhat. Melalui curhat, siswa bisa memahami karakter teman dan gurunya.
Setelah tahapan conection atau hubungan yang saling terbuka, maka bullying bisa diatasi. Melalui jembatan conection tersebut, minimal guru sudah membangun jembatan komunikasi yang efektif. Guru telah membuka pintu keterbukaan yang selama ini buntu. Selanjutnya guru baru bisa correction, atau membenarkan ketika oranglain melakukan kekeliruan. Selama ini yang sering dilakukan guru cenderung menyalahkan siswa, memvonis siswa atas kesalahannya, dan sebagainya.
Jadi, mengkritik kesalahan orang lain itu hal wajar.  Hanya saja, guru belum membangun hubungan harmonis dengan siswa. Sehingga ke depan perlu sinergitas, antara sekolah, orangtua, dan siswanya.  Melalui pintu yang bernama conection tersebut, maka akan melahirkan coretion. Bagaimana siswa akan mudah dikoreksi, kalau belum ada conection, atau hubungan batin siswa?
Dari hal tersebut dapat disimpulkan bahwa guru hendaknya membangun conection before correction. Selama ini guru cenderung merasa”paling pintar” dan sebagainya. Untuk itu, diperlukan pembelajaran yang menyenangkan dengan tetap memperhatikan perkembangan peserta didik. Melalui BCB tersebut diyakini mampu mengubah image guru. Guru akan membangun communication (komunikasi) yang baik dengan siswa, sehingga bulyiing bisa dicegah. Upaya cegah bullying sinkron dengan upaya pemerintah melalui revolusi mental untuk menciptakan generasi yang smart, tanggap tanggon, dan trengginas.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

ARTIKEL

Hebat, Siswa SMP 17 Semarang Raih Juara 2 Lomba Tari Kreasi

 Siswi SMP 17 Semarang, berhasil meraih juara 2 lomba tari kreasi. Lomba diadakan oleh SMA Islam Sultan Agung 1 Semarang. Kegiatan diadakan ...