CBC,
Bangun Komunikasi Guru dan Siswa
Oleh,
Tukijo, S.Pd
Guru
SMP Negeri 17 Semarang
Bulying atau
perundungan menjadi tren akhir-akhir ini. Bulying terjadi karena ada pihak
dengan kekuasaan dan kekuatannya mengkooptasi pihak yang lemah. Selama ini kasus
bullying lebih banyak dijumpai di sekolah. Mengapa di sekolah?Karena sekolah
merupakan tempat bertemunya berbagai karakter siswa. Maraknya kasus bullying
akhir-akhir ini, membuktikan bahwa ada sesuatu yang perlu dibenahi. Menasihati
saja tidak cukup, untuk dipraktikkan terhadap siswa di sekolah. Celakanya,
guru-guru di sekolah cenderung getol memberikan hukuman terhadap kekeliruan
siswa. Ada istilah pewarisa hukuman dari generasi tua kepada siswa.
Bulying di sekolah
menjadi perhatian khusus pemerintah dalam hal ini Kementerian Pemberdayaan,
Perlindungan Perempuan dan Anak (KemenPPPA) Republik Indonesia. Maka program
anti bullying menjadi amunisi baru untuk menihilkan banyaknya kasus bullying.
Sehingga melalui strategi tertentu, pemerintah benar-benar memberikan perhatian
terhadap maraknya bullying. Lagi-lagi korbannya yang sebagian besar para siswa,
jarang mau terbuka terhadap guru.
Mengapa tidak mau
terbuka dengan guru? Guru menjadi
orangtua kedua di sekolah. Guru yang mengatur, memfasilitasi, dan melindungi
siswa selama pembelajaran. Jika masih ada siswa yang enggan terbuka dengan
guru, berarti perlu cara lain. Guru perlu terbuka, membuka kran komunikasi yang
harmonis, serta menurunkan tensi emosinya dengan siswa.
Salah satu cara agar
siswa mau terbuka terhadap guru, yaitu conection before correction(CbC).
Maksudnya, kita harus memiliki cara untuk melakukan pendekatan lebih dulu kepada siswa. Guru harus mampu
melakukan pendekatan dengan keterbukaan terhadap siswa. Tanpa sadar, guru pun
bisa masuk ke dalam alam pikir siswa. Jelasnya guru perlu membangun jaringan
atau hubungan (conection).
Hubungan yang harmonis,
penuh keterbukaan terhadap siswa, akan membuat pintu komunikasi terbuka.
Sekecil apapun, siswa pantas diapresiasi. Sekecil apapun kekeliruan siswa,
perlu diberikan penegasan. Hanya saja, yang perlu diperhatikan guru, jangan
sampai guru mewariskan dendam hukuman. Mulai saat ini, kita sepakat untuk tidak
memberikan hukuman apapun kepada siswa. Baik hukuman fisik maupun hukuman
psikis. Hukuman diubah menjadi konsekuensi logis yang disepakati bersama.
Hubungan yang dimaksud
merupakan jembatan awal guru memahami karakter siswa. Karena ada siswa yang
karakternya tertutup, tidak peduli, dan sebagainya. Untuk itu, guru perlu
memperlakukan siswa sebagai orang yang mampu berpikir dengan nalarnya. Guru
cukup memberikan ruang gerak yang cukup, serta membangun
kesepakatan-kesepakatan.
Setelah conection terbangun, maka tahap selanjutnya coorection (mengoreksi).Tidak mungkin
seseorang yang belum kenal, lalu mampu memahami orang lain. Maka konsep
conection before correction perlu diterapkan guru di kelas. Sehingga tercipta
atmosfer kekeluargaan, tanpa hukuman, tanpa dendam, dan tanpa kekerasan. Selama ini guru cenderung langsung correction, atau mengoreksi kesalahan
siswa. Bahkan kadang ada oknum guru yang langsung bermain vonis.Bagaimana siswa
akan terbuka kepada guru, jika gurunya sendiri tidak mau terbuka dengan
perubahan zaman?
Maka dalam membangun conection atau hubungan batin tersebut,
diperlukan ; guru menurunkan tensi kekuasannya atas siswa. Tidak perlu lagi
guru marah-marah, dan menyalahkan siswa. Sekarang akses siswa menggali
informasi cukup luas. Melalui penurunan tensi kekuasaan atas siswa tersebut,
maka lambat laun siswa akan merasa risih sendiri.
Selanjutnya, perlakukan
siswa sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Kuasa. Siswa menjadi bagian generasi yang
kita siapkan kelak. Selama ini masih
saja ada guru yang merasa paling bisa . Guru paling menguasai materi, bahkan
guru yang cenderung kurang terbuka dengan siswa. Padahal siswa lebih cepat akses
informasi dari media online. Guru juga bisa menjadi teman, dan partner curhat. Melalui curhat, siswa
bisa memahami karakter teman dan gurunya.
Setelah tahapan
conection atau hubungan yang saling terbuka, maka bullying bisa diatasi.
Melalui jembatan conection tersebut, minimal guru sudah membangun jembatan
komunikasi yang efektif. Guru telah membuka pintu keterbukaan yang selama ini
buntu. Selanjutnya guru baru bisa correction,
atau membenarkan ketika oranglain melakukan kekeliruan. Selama ini yang sering
dilakukan guru cenderung menyalahkan siswa, memvonis siswa atas kesalahannya,
dan sebagainya.
Jadi, mengkritik
kesalahan orang lain itu hal wajar. Hanya
saja, guru belum membangun hubungan harmonis dengan siswa. Sehingga ke depan
perlu sinergitas, antara sekolah, orangtua, dan siswanya. Melalui pintu yang bernama conection
tersebut, maka akan melahirkan coretion. Bagaimana siswa akan mudah dikoreksi,
kalau belum ada conection, atau hubungan batin siswa?
Dari hal tersebut dapat
disimpulkan bahwa guru hendaknya membangun conection
before correction. Selama ini guru cenderung merasa”paling pintar” dan
sebagainya. Untuk itu, diperlukan pembelajaran yang menyenangkan dengan tetap
memperhatikan perkembangan peserta didik. Melalui BCB tersebut diyakini mampu
mengubah image guru. Guru akan membangun communication (komunikasi) yang baik
dengan siswa, sehingga bulyiing bisa dicegah. Upaya cegah bullying sinkron
dengan upaya pemerintah melalui revolusi mental untuk menciptakan generasi yang
smart, tanggap tanggon, dan trengginas.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar