Oleh,Tukijo
Guru SMP 17 Semarang
Bicara pembelajaran di tengah pandemik tidak pernah
berakhir. Diskusi terus bergulir, mulai dari kebijakan, implementasi,
kurikulum, guru, dan piranti. Pun demikian dengan pembelajaran daring. Seakan
menjadi blunder , pembelajaran tatap muka menyisakan beragam persoalan.
Alih-alih memberi solusi, justru gaung pembelajaran tatap muka terus
didengungkan. Apakah hal tersebut jadi dilaksanakan?Persoalan makin runyam,
mana kala solusi atas berbagai persoalan pembelajaran di pandemi belum menemui
titik terang. Lalu di pihak guru bagaimana menyikapi rencana pembelajaran tatap
muka?
Setiap kebijakan, tidak lepas
dari political will para pemangku kebijakan. Tak jarang guru di lapangan kalang
kabut. Tak semua guru mampu mengurai persoalan pembelajaran. Pun saat guru
harus mencari solusi tidak serta merta bisa lepas dari kenyataan. Awal
pembelajaran dari rumah(BDR) diterapkan, pro kontra dari siswa dan masyarakat
terus bergulir, Mulai dari ketersediaan kuota internet, piranti, kapabilitas
guru mengolah materi dan konten.
Dari aspek ketersediaan platform, memang banyak tersedia.
Mulai dari yang gratis, abu-abu, maupun terang-terangan menawarkan paket juga
ada. Pada aspek ini, bisa diterima karena peran pihak ketiga. Kemudiaan muncul
saat kuota menjadi kendala. Pembelaajran jaran jauh)PJJ) bergantung internet.
Jika pun di daerah blangk spot, harus pula ada solusi. Misalnya one teacher,
one server offline. Akhirnya seakan protes besar dari masyarakat, akhirnya
pemerintah menggelontorkan kuota gratis untuk siswa dan guru. Clear?Tidak!
Persoalan tidak berhenti di situ. Muncul lagi alasan android yang tidak suport
maupun tidak punya laptop.
Belum ada data valid tentang hal tersebut, pemerintah
kini membagikan akun belajar gratis unlimited untuk siswa, guru, dan tenaga
kependidikan. Sekali lagi siswa seakan benar-benar difasilitasi. Tapi apakah
persoalan pembelajaran akan berhenti di situ?Terurai akarnya?Belum
tentu.(bersambung...

extra ordinary , siip
BalasHapus